PEMERINTAH GAGAL MEMPERTAHANKAN PANCASILA ??? (SEBUAH REFLEKSI DIHARI LAHIRNYA PANCASILA)

Oleh : Achmad Rahayu

Hari ini merupakan salah satu hari yang sangat bersejarah bagi berdirinya bangsa ini. Hari dimana dasar pijakan (dasar negara) Indonesia merdeka itu ditentukan. Yah pada tanggal 1 Juni, tepatnya tanggal 1 Juni 1945 para foundhing fathers negeri ini telah berhasil merumuskan apa yang akan dijadikan sebagai dasar pijakan (philosofische grondslag) Indonesia merdeka. Melalui pidatonya, Bung Karno telah berhasil merumuskan sekaligus meyakinkan kepada seluruh anggota sidang “Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai” (Badan Penyelidik Uasaha Persiapan Kemerdekaan) Pancasila Sebagai dasar negara Indonesia merdeka.

Pancasila yang isinya merupakan kebangsaan, internasionalisme (perikemanusiaan), mufakat atau demokrasi, kesejahteraan sosial dan Ketuhanan yang berkebudayaan ditawarkan oleh Bung Karno untuk dijadikan sebagai da

sar negara Indonesia merdeka. Dengan gegap gempita sebagian besar dari seluruh hadirin aggota sidang dapat menerima Pancasila tersebut sebagai dasar atau idiologi Republik ini.

Dengan berbagai perjuangan dan perdebatan yang cukup sengit diantara para pendiri bangsa ini, akhirnya Pancasila yang ditawarkan oleh Bung Karno disepakati untuk menjadi dasar negara atau idiologi bangsa ini dengan sedikit perubahan susunan dan kata-kata dalam setiap silanya sehingga menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah, apakah sampai saat ini nilai-nilai luhur yang terkandung didalam Pancasila itu sudah diaktualisasikan kedalam kehidupan nyata? Apakah Pancasila yang notabene menjadi dasar negara juga masih hidup subur di  bumi Indonesia ini? Apakah masing-masing dari sila Pancasila yang menjadi visi dari Indonesia merdeka itu sudah dapat dirasakan oleh seluruh rakyat diseluruh penjuru tanah air? Apakah didalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara kita sudah mencerminkan sebagai negara yang Pancasilais?.

Jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Karena semua orang berhak untuk memberikan penilaian dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Namun demikian, secara umum pertanyaan-pertanyaan yang muncul tersebut dapat kita berikan jawabannya ketika kita dapat terlebih dahulu memahami esensi dari masing-masing sila dari Pancasila itu sendiri sekaligus menghubungkannya dengan apa yang sedang kita rasakan saat ini. Baiklah, mari kita bahas dan pahami terlebih dahulu esensi dari masing-masing sila sekaligus tujuan dari sila tersebut.

  1. 1.        Ketuhanan Yang Maha Esa

Apa yang dimaksud dengan Ketuhanan Yang Maha Esa? Bung Karno dalam pidatonya menyampaikan “Bahwa prinsip kelima daripada negara kita ialah ke-Tuhanan yang berkebudayaan, ke-Tuhanan yang berbudi pekerti yang luhur, ke-Tuhanan yang hormat-menghormati satu sama lain (Soekarno, 1 Juni 1945). Jadi yang dimaksud dengan ke-Tuhanan disini ialah Ketuhanan yang saling hormat-menghormati antara satu dengan yang lain. Hormat-menghormati antara pemeluk agama yang satu dengan pemeluk agama yang lain. Jadi artinya negara memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada seluruh rakyatnya untuk memeluk agama dan kepercayaan masing-masing.

Nah, kondisi sosial yang terlihat nyata didepan mata kita saat ini seperti apa? Apa kita juga masih dapat menghormati yang berlainan agama dan berlainan keyakinan? Konflik yang mengatasnamakan agama tertentu masih sering kita jumpai di negeri ini. Konflik antar kelompok kepercayaan tertentu juga demikian halnya. Dalam hal ini berarti pemerintah masih belum mampu untuk dapat menjga keseimbangan religiusitas negara. Malahan pemerintah seakan menutup mata ketika melihat konflik-konflik yang mengatasnamakan agama dan kepercayaan tertentu di negeri ini. Dalam hal ini berarti pemerintah telah gagal mengaktualisasikan sila pertama Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa kedalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

  1. 2.        Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Kemanusiaan yang adil dan beradab yang seperti apa yang sudah dapat kita rasakan saat ini? “Kebangsaan yang kita ajukan bukan kebangsaan yang menyendiri, bukan chauvinisme…Kita harus menuju persatuan dunia, persaudaraan dunia. Kita bukan saja harus mendirikan Indonesia merdeka, tetapi kita harus menuju pula kepada kekeluargaan bangsa-bangsa” (Soekarno, 1 Juni 1945). Itulah yang dimaksudkan oleh Bung Karno, bahwasannya negara Indonesia juga harus menuju kepada kekeluargaan bangsa-bangsa atau internasionalisme.

Jangankan kita mau memperhatikan nasib bangsa lain diluar sana, mengurusi atau memerdekakan rakyatnya sendiri saja belum tuntas. Kesenjangan terjadi disegala aspek kehidupan masyarakat. Dalam hal ini negara kita sudah sangat jauh sekali mengalami kemunduran dalam percaturan dunia internasional. Yudi Latif berpendapat, ”Di bawah bimbingan nilai-nilai etis Ketuhanan yang memimpin cita-cita negara kita, semua manusia dipandang setara dan bersaudara, yang mengandung keharusan untuk menghormati kemanusiaan universal serta mengembangkan tata pergaulan dunia yang adil dan beradab” (Latif, 2011: 125).

Kalau kita kembali sejenak kepada sejarah masa lalu, ketika kepemimpinan era Bung Karno, Indonesia dapat maju kedepan sebagai salah satu pelopor dalam pengembangan pergaulan dunia yang adil dan beradab. Terbukti beberapa kali Indonesia berhasil menyelenggarakan berbagai perserikatan yang bertujuan untuk kemerdekaan negara-negara yang terjajah seperti Konferensi Asia-Afrika (KAA) pada tahun 1955 yng bertempat di Bandung. Ketika terjadi perang dingin antara blok barat dan blok timur, Indonesia berhasil memposisikan dirinya serta menggalang kekuatan Gerakan Non Blok (GNB).

Sekarang Indonesia berada didalam posisi mana dalam pergaulan dunia ini? Ketika sebagian negara-negara Timur Tengah dijajah oleh sistem Neo-Kolonialisme, Indonesia tidak dapat berbuat apa-apa. Tidak usah jauh-jauh di Timur Tengah sana, Kamboja-Thailand konflik saja Indonesia belum dapat berbuat lebih. Dalam hal ini pemerintah sepertinya telah gagal dalam mengimplementasikan isi yang terkandung didalam sila yang kedua ini.

  1. 3.        Persatuan Indonesia

Sudah bersatukah Indonesia kita ini? Jikalau kita mau berbicara secara jujur, Indonesia sekarang sedang berada diambang perpecahan kalau saja kita tidak segera mencari obatnya sekaligus menggelorakan kembali semangat kebangsaan kepada semua anak bangsa negeri ini. Betapa tidak? Semangat individualisme sekarang semakin membudaya ditengah-tengah masyarakat kita terutama generasi muda. Konflik horisontal semakin sering terjadi dimana-mana. Semangat kedaerahan sekarang sepertinya lebih besar daripada semangat kebangsaan kita. Konflik vertikal antara rakyat disebagian daerah dengan pemerintahnya masih saja kerap kali terjadi .

Didalam pidatonya Soekarno mengemukakan, “Kita hendak mendirikan suatu negara semua untuk semua…karena itu, jikalau tuan-tuan terima baik, marilah kita mengambil sebagai dasar negara yang pertama: Kebangsaan Indonesia. Kebangsaan Indonesia yang bulat! Bukan kebangsaan Jawa, bukan kebangsaan Sumatera, bukan kebangsaan Bornea, Sulawesi, Bali, atau lain-lain, tetapi Kebangsaan Indonesia, yang bersama-sama menjadi dasar satu nationale staat” (Soekarno, 1 Juni 1945).

Persatuan inilah sebenarnya yang dicita-citakan oleh pendiri bangsa ini. Tetappi mengapa sekarang masyarakat kita menjadi semakin tidak ramah. Sedikit saja terdapat perbedaan yang sama sekali tidak prinsipil dan substantif, kita dengan begitu mudahnya bertikai antara yang satu dengan yang lainnya. Belum lagi konflik-konflik yang mengatasnamakan salah satu agama dan kepercayaan tertentu yang semakin sering dapat kita jumpai. Semua itu sama sekali sangat kontra produktif terhadap upaya pencapaian cita-cita bangsa ini yang sekarang tengah mengalami keterpurukan. Sepertinya kita sudah mulai melupakan semboyan negara kita yaitu “Bhineka Tunggal Ika”. Meskipun kita berbeda-beda tetapi kita tetap satu jua.

  1. 4.        Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.

Negara Indonesia bukan satu negara untuk satu orang, bukan satu negara untuk satu golongan walaupun golongan kaya. Tetapi, kita mendirikan negara semua buat semua, satu buat semua, semua buat satu. Saya yakin syarat mutlak untuk kuatnya Negara Indonesia ialah permusyawaratan, perwakilan. …kalau kita mencari demokrasi, hendaknya bukan demokrasi Barat, tetapi permusayawaratan yang memberi hidup” (Soekarno, 1 Juni 1945). Sudahkah negara kita menerapkan nilai-nilai yang terkandung didalam sila ini?.

Wakil-wakil rakyat kita yang terhormat sekarang sudah tidak lagi memperhatikan nasib rakyat yang diwakilinya. Ditengah-tengah kondisi rakyat yang tengah mengalami kesusahan perekonomiannya, anggota DPR justeru malah sibuk dengan tender pembuatan gedung barunya. Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPRRI) sekarang sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi setelah Undang-Undang Dasar diamandemen sehingga hak-hak mereka dipereteli sedemikian rupa. Permusyawaratan yang disuguhkan oleh wakil rakyat kita pun sekarang telah melenceng jauh dari budaya Indonesia yang sesungguhnya yaitu gotong royong. Mereka sekarang hanya mementingkan kelompok mereka sendiri sehingga mereka menjadi lupa untuk dapat mengembangkan solidaritas sosial (gotong royong) dalam rangka kemaslahatan dan kebahagiaan hidup bangsa secara keseluruhan bukan hanya atas nama golongan dan kelompok saja. Yang mayoritas lupa untuk dapat menghormati hak-hak yang minoritas sehingga kedaulatan rakyat yang berlandaskan semangat kekeluargaan hanya tinggal mimpi belaka.

  1. 5.        Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Lagi-lagi kalau kita membahas tentang sila ini kita akan kembali merasakan kekecewaan. Bagaimana tidak? Coba dibagian manakah letak keadilan sosial yang diperuntukkan bagi seluruh rakyat Indoenesia itu ditemukan. Keadilan yang seperti apa? Keadilan ekonomikah? Keadilan pembangunankah?.

Sepertinya sila yang kelima inilah yang paling jauh dari tujuannya. Kemiskinan masih merajalela dimana-mana. Pengangguran juga semakin bertambah kuantitasnya. Kesenjangan ekonomi semakin memperlebar jurang pemisah antara si kaya dan si miskin. Keadilan untuk dapat mengenyam pendidikan setinggi-tingginya masih juga belum dapat dirasakan oleh seluruh anak pelosok negeri ini. Lalu keadilan sosial yang seperti apakah yang dimaksud dalam sila kelima tersebut.

Soekarno mengatakan dalam pidatonya bahwa “Prinsip kesejahteraan, prinsip: tidak akan ada kemiskinan didalam Indonesia merdeka” (Soekarno, 1 Juni 1945). Jadi selama masih ada kemiskinan di negeri ini berarti Indonesia masih belum merdeka seutuhnya. Apakah cita-cita dari sila ini akan menjadi sesuatu yang utopis? Sesuatu yang tidak mungkinkan dapat digapai?.

Beginilah nasib Pancasila yang kita jadikan sebagai dasar negara kita. Setelah pada masa orde baru “Pancasila hanya dikeramatkan, tidak dikaitkan dengan realitas kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara. Sedangkan Pancasila, adalah bersumber dari realitas kehidupan sebagai nilai luhur yang terkandung didalam bumi Indonesia sendiri, yang mengemban budaya luhur bangsa Indonesia, adalah cermin dari kepribadian bangsa Indonesia” (Hardani, 2002: ii).

Sekarang Pancasila tengah mengalami masa-masa yang sulit sekali. Jika pemerintah tidak dapat menjaga dan mengimplementasikan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila itu sendiri, bukan tidak mungkin Pancasila akan menjadi luntur dan kemudian hilang dari bumi pertiwi ini. Kalau memang seperti ini, tidak salah kalau timbul suatu pertanyaan bahwa Pemerintah saat ini telah gagal dalam memerthankan Pancasila?.

Tetapi tidak! Bagi kita khususnya generasi muda harus memahami Pancasila dengan benar serta mengaktualisasikannya ke dalam realitas kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Apakah kita mau Pancasila nantinya hanya tinggal sejarah saja? Akan kita warisi apa anak cucu kita kalau kita lemah dalam menjaga Pancasila yang memang nilai-nilai luhur yang terkandung didalam bumi Indonesia sendiri. Demikianlah selamat memperingati hari lahirnya Pancasila, semoga bangsa dan negara ini akan segera bangkit dari keterpurukan. Semoga Pancasila akan tetap menjiwai semangat dihati seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke tanpa terkecuali. Semoga saja demikian adanya.

Penulis adalah Ketua Cabang
Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)
Kabupaten Rokan Hulu
(Mahasiswa Universitas Pasir Pengaraian)

Terbit Di Riau Pos edisi 1 Juni 2011

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: